Romantika Champs Elysees di Paris

Hampir semua kota punya satu jalan yang jadi ikon. Di Paris, jalan tersebut adalah Avenue des Champs Elysees. Jalan raya sepanjang hampir 2 km ini menghubungkan Arc de Triomphe di Place Charles de Gaulle dengan Place de Concorde, yang apabila dilanjutkan lagi akan sampai ke Museum Louvre.

Selesai mengunjungi Arc de Triomphe (lambang kemenangan Napoleon Bonaparte dalam Perang Austerlitz), saya tidak menggunakan kereta bawah untuk pergi ke Louvre. Saya ingin menyusuri Champs Elysess meski hawa dingin menggigit tulang (suhu mendekati titik beku).

View gallery

.

Arc de Triomphe terlihat di kejauhan.


Avenue des Champs Elysees disebut-sebut sebagai salah satu jalan paling mahal di dunia, karena di sepanjang jalan ini berdiri butik-butik ternama. Inilah surga bagi para pebelanja. Merek-merek terkenal terpampang di semua penjuru.

Tidak seperti di Jakarta di mana butik-butik ini berada di dalam pusat perbelanjaan mewah yang modern, di sini toko-toko tersebut menempati bangunan kuno walaupun interiornya telah direnovasi. Saya cukup puas mencuci mata di sini — karena selain tidak hobi belanja, juga tidak ada uang.

View gallery

.

Menyusuri Avenue des Champs Elysees.


Tidak salah bila Champs Elysses dikatakan sebagai jalan yang sangat indah, karena pada musim dingin yang kelabu pun jalan ini masih memberikan daya tarik magisnya. Perpaduan antara bangunan tua nan cantik dan pepohonan tanpa daun membuat pemandangan di sekitarnya terlihat begitu klasik serta elegan.

View gallery

.

Grand Palais yang berdiri megah.


Saya tak pernah ingin berhenti mengambil gambar. Semua bangunan terlihat cantik. Jalan ini sudah ada sejak awal abad ke-17 ketika Marie de Medici memutuskan untuk memperpanjang Taman Tuileries dengan sebuah jalan yang ditumbuhi pepohonan. Jadilah Champs Elysees dengan kecantikan yang tidak pudar selama empat abad. Pohon-pohon berangan kuda tumbuh di sisi kanan dan kiri jalan.

Ketika rasa lelah menerpa, saya duduk di salah satu bangku yang tersedia di pinggir jalan. Bila ingin lebih nyaman, kafe-kafe yang menyediakan kopi dan roti banyak tersedia di pinggir jalan, tentu saja harganya juga tidak murah.

View gallery

.

Obelisk Luxor di ujung timur Champs Elysees.


Bagi saya, wisata berjalan kaki seperti ini banyak sekali keuntungannya. Yang pertama, saya dapat menikmati pemandangan dan kehidupan setempat dengan lebih leluasa. Kedua, saya dapat berhenti di tempat-tempat yang saya inginkan, baik hanya untuk mengistirahatkan kaki, memakan bekal, maupun mengambil gambar. Yang terakhir, tentu saja karena berjalan kaki artinya tidak mengeluarkan biaya untuk kereta atau bus.

Di Champs Elysees ini, salah satu bangunan yang menarik perhatian saya adalah Grand Palais dan Petit Palais. Grand Palais adalah museum sekaligus gedung pameran. Bangunan megah ini dihiasi oleh patung-patung besar di sudut-sudut atapnya. Di bagian bawah Grand Palais terdapat markas polisi. Petit Palais terdapat di seberangnya, dengan ukuran yang lebih kecil namun tidak kalah cantik.

Selesai memotret bangunan-bangunan ini saya melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah kincir raksasa. Di depan kincir terdapat sebuah obelisk Mesir, yang telah berusia lebih dari 3300 tahun. Obelisk Luxor tersebut dulu berdiri di depan Kuil Luxor dan dihadiahkan ke Prancis di tahun 1829. Tempat inilah yang sekarang diberi nama Place de la Concorde, ujung timur Champs Elysees.

Dari sini saya tinggal menyeberangi taman untuk menuju ke Musee du Louvre, museum yang terkenal dengan piramida kacanya, untuk berjumpa dengan si pemilik senyum misterius: Monalisa.

Kunjungi juga blog perjalanan Olenka di www.backpackology.me

Simak juga galeri menikmati Paris dari Menara Eiffel di bawah ini.

Baca juga:

[GALERI] New Delhi dalam sehari
[GALERI] Berburu senja keliling Indonesia
[GALERI] Candi-candi terindah di India dan sekitarnya
Dua jam di Duomo Milan
Berdandan gila di Harajuku

View Comments (31)